Naluriku terantuk sebuah bayangan yang pendar
Mencoba menitikkan kisaran makna di kejauhan menanti
Anyaman rindu pekat ini membalut alunan senandung yang berkicauan
Sebab saatnya mimpi bercerita indahnya selubung ragu yang membara
Satu demi satu serpihan masa lalu tergetar sudah
Meremukkan bingkai-bingkai yang tidak lekat
Hatiku bukanlah taman untuk bermain sesaat
Yang memberi nikmat sekejap dan kemudian lenyap
Hasratku bukan remah-remah roti yang tercecer di bawah meja
Terinjak kaki dan mengukir jejak yang terseret
Namun semuanya adalah kisah-kisah yang tersendu
Kala rampai jelajah kehampaan mulai meringkik
Dan sambutan resah tidaklah mencerminkan geram
Lambaian senyuman justru memompa semangat yang lesu
Lamunanku mulai terhenyak oleh gelegar auramu
Salammu membawa pada perjumpaan yang melemaskan
Meluruskan tulang-tulang yang bengkok karena hentakkan
Sekarang mata mulai terbuka dan hati bernyanyi kembali
Menyambut kecerahan yang menyembul di antara kegalauaku
Surabaya, 28 Juni 2013
