JEJAK-JEJAK SANG CICAK adalah blog yang berisi kumpulan puisi dan sajak hasil karya Daud Endro "SangPemazmur" yang ditulis sejak masa remajanya hingga kini.

29 June 2013

HATI YANG KERDIL

tak perlu ditanya apa dasarnya?...
namun perlu ditanya kapan sadarnya?..
sebab jawabnya sudah jelas...
ketakutan akan kebodohan tersiar dipenjuru bumi...
kekuatiran akan ketidakbenaran menggema di lingkaran langit...
yg dilahirkan oleh hati yg kerdil...
dari jiwa yg haus kasih sayang dan pujian... 
semua ada waktunya....
dan semua ada masanya...
jika tdk pernah terbangun dan berubah...
maka lesatan gemuruh bah akan menenggelamkannya...
selamat menikmati jika itu dambaan sisi hati...
selamat berlayar jika itu pulau yg ingin rengkuh...
selamat bersuka jika itu memang puncak yg ingin dicapai...
bersiaplah gelombang angin sakal akan mencabik-cabiknya...
sbab bola salju sudah menggelinding...
dan debu-debu jalanan sudah mengerumuni sudut-sudut cahaya....
semuanya akan terjadi dengan sendirinya..
sbab apa yang ditabur orang itu pula yang akan dituainya

Surabaya, 11 Juni 2013

SELAMAT TINGGAL PAHLAWAN KESIANGAN

masa lalu biarkanlah berlalu....
sbab masa lalu adalah masa lalu....
lupakan semua batu sandungan....
dan biarlah jalan terjal itu sebagai batu loncatan...
biarlah gambaran yg tdk patut dicontoh itu mulai tenggelam bersama badai...
selamat tinggal para pahlawan-pahlawan yg kesiangan...
yg selalu berlomba-lomba menutup-nutupi borok di sana sini...
dan berkoar-koar tentang kebenaran yg semu....
yg berkubang dlm ketidakinginan utk berkembang...
dan berlindung pada pengetahuan yg dangkal...
sebab tindakannya tdk sama dengan slogannya.. 
yg sudah tahu salah tapi trs merasa benar...
berubahlah dalam area yang konkrit...
sebuah jalan lurus yang benar...
namun kini kaki ini hrs trs melangkah sbab musim menabur telah tiba..
dan lahan baru telah tersaji utk dibajak...
kesempatan baru masih ada...
dan arah mata angin akan trs mengiringinya.

Surabaya, 24 Juni 2013

SALAM PERJUMPAAN DI DALAM LAMUNAN












Naluriku terantuk sebuah bayangan yang pendar
Mencoba menitikkan kisaran makna di kejauhan menanti
Anyaman rindu pekat ini membalut alunan senandung yang berkicauan
Sebab saatnya mimpi bercerita indahnya selubung ragu yang membara
Satu demi satu serpihan masa lalu tergetar sudah
Meremukkan bingkai-bingkai yang tidak lekat
Hatiku bukanlah taman untuk bermain sesaat
Yang memberi nikmat sekejap dan kemudian lenyap
Hasratku bukan remah-remah roti yang tercecer di bawah meja
Terinjak kaki dan mengukir jejak yang terseret
Namun semuanya adalah kisah-kisah yang tersendu
Kala rampai jelajah kehampaan mulai meringkik
Dan sambutan resah tidaklah mencerminkan geram
Lambaian senyuman justru memompa semangat yang lesu
Lamunanku mulai terhenyak oleh gelegar auramu
Salammu membawa pada perjumpaan yang melemaskan
Meluruskan tulang-tulang yang bengkok karena hentakkan
Sekarang mata mulai terbuka dan hati bernyanyi kembali
Menyambut kecerahan yang menyembul di antara kegalauaku

Surabaya, 28 Juni 2013